HARI PERTAMA

SDN Tirtasari 3 adalah lokasi pendaratan perdana pesawat luar angkasa yang kami beri nama Aku Kembali ke Sekolah. Sekolah tersebut terletak di kelurahan Tirtasari, Kecamatan Tirtamulya, Karawang.

Para awak kapal, yang kemudian diberi nama Pasukan AKS, menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Cikampek menuju lokasi. Medan yang kami tempuh tidak begitu berat, tapi cukup melelahkan sebab kondisi jalan yang belubang-lubang. Kami asumsikan jika hujan turun, akan banyak kenangan-kenangan air di sana (maksud saya, genangan-genangan air).

Sekolah tersebut memiliki tiga ruangan. Ruang pertama terdiri dari ruang siswa kelas lima dan ruang guru. Ruangan kedua terdiri dari ruang siswa kelas tiga dan kelas empat. Dan ruangan ketiga terdiri dari ruang siswa kelas satu dan kelas dua. Kedua ruangan tersebut melakukan aktivitas belajar secara bersamaan. Lalu di mana siswa kelas enam belajar? Mereka belajar di teras yang terletak di depan ruang pertama.

Dengan keterbatasan ruang kelas, anak-anak tetap semangat datang ke sekolah untuk belajar dan bermain. Mereka menyambut kami dengan hangat dan semangat.

Kami memulai sabtu pagi dengan gembira. Seperti AKS sebelumnya, seluruh siswa dibagi ke dalam dua kelompok di dua ruangan berbeda. Kelompok kelas 1,2,dan 3, dan kelompok kelas 4,5, dan 6.

Aku Kembali ke Sekolah merupakan rangkaian peristiwa untuk mengenalkan mereka kepada sesuatu. Misalnya pasukan AKS akan mendongengkan sebuah cerita di hadapan kelompok kelas 1,2, dan 3 dan kemudian anak-anak akan mendongeng di hadapan teman-temannya secara bergantian. Selain itu, kami mengundang komunitas Musang Lovers Cikampek untuk mengedukasi anak-anak bagaimana cara memelihara musang, merawatnya, hingga mengenalkan jenis-jenis musang beserta habitatnya.

Di ruangan yang lain, kelompok kelas 4, 5 , dan 6 sibuk berperan menjadi diri mereka di masa depan dalam sesi Mengenal Profesi Kita. Ada yang cita-citanya menjadi polisi karena ingin menangkap maling, ada yang ingin menjadi wartawan karena hanya ingin, dan ada-ada saja pokoknya.

Pasukan AKS juga mendongengkan mereka sebuah kisah menggunakan boneka dongeng sebagai media bercerita. Tidak ketinggalan Komunitas Musang Lovers Cikampek mengambil perannya untuk mengedukasi anak-anak dan berinteraksi langsung dengan beberapa jenis musang yang dibawa.

Pasukan AKS yang lain mengisi sesi Menulis Surat Untuk Bupati Karawang. Pasukan mengenalkan siapa Bupati Karawang beserta tanggung jawabnya sebagai pemimpin daerah. Kemudian, kami mengajak anak-anak untuk menulis apa saja yang menjadi keresahan dan harapan-harapan mereka untuk kemudian disampaikan kepada pemimpin daerahnya.

Apa yang kami temui dalam sesi ini? Kami menyadari betul bahwa anak-anak juga peka terhadap masalah di lingkungannya. Mereka bisa mengatakan bahwa di sekolah tidak ada perpustakaan, akses jalan di sekitar tempat tinggal hingga sekolahnya yang sangat buruk dan tidak aman, mereka juga berbicara soal mimpi-mimpi mereka yang tidak ingin terputus.

Tidak ada orang yang tidak ingin berhasil. Tidak ada orang ingin putus asa akan hidupnya.

– n m –

Selain kegiatan-kegiatan di atas yang dilakukan secara terpisah, ada juga kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama. Misalnya, Aksi Pungut Sampah yang diinisiasi oleh Pasukan AKS. Hal yang ingin kami bagikan di Aksi Pungut Sampah adalah bahwa kebersihan itu penting dan mudah.

Ada juga Piknik Buku. Kami membawa sekitar 100 hingga 200 buku (tergantung jumlah siswanya) untuk melapak di sekolah. Dalam sesi ini, sembari istirahat, anak-anak bebas mengambil buku apa saja yang mereka ingin baca. Kemudian anak-anak akan diminta menceritakan kembali apa saja yang mereka peroleh dari buku itu.

Sepanjang Piknik Buku, Pasukan AKS akan mendampingi. Ada beberapa anak yang belum bisa membaca. Belum bisa mengeja. Pasukan akan membantu mereka. Ada anak-anak yang banyak bertanya selepas membaca buku. Pertanyaannya sederhana tapi penting, seperti, “Emang terbuat dari apasih bulan itu, Kak?”

SDN Tirtasari 3 hanya memiliki lima guru, satu penjaga sekolah, dan satu orang kepala sekolah (yaiyalah satu!). Kalau kamu bertanya, “memangnya tidak ada guru yang mau bekerja di sana?” Jawabannya adalah “ada”, tapi dalam sepuluh hari guru tersebut mengundurkan diri. Menurut Kepala UPTD Kecamatan Tirtamulya saat itu mengatakan bahwa guru tersebut menyerah karena aksesnya yang jauh dan tidak aman. Selain itu Kepala UPTD mengeluhkan sulitnya memperoleh tenaga pengajar di sana.

Sekolah Dasar yang terdiri dari 89 siswa itu tidak memiliki fasilitas seperti, ruang perpustakaan, ruang konseling, dan perkarangan sekolah. Fakta bahwa sekolah hanya memiliki lima orang guru menggambarkan bahwa pasti salah satu orang guru mengajar di dua kelas sekaligus.

Ini adalah temuan yang kami hadapi pada sabtu (3/11/18). Sarana dan prasarana ideal yang tidak dimiliki sekolah hanya temuan kecil dari berbagai masalah yang ada di dunia pendidikan kita saat ini. Belum lagi soal uji kompetensi guru.

Jadi saya pikir, kita bisa bekerja sama untuk membuka akses pengetahuan seluas-luasnya untuk anak-anak. Selain AKS, kami juga menggalang dana untuk membuat perpustakaan kelas. Kami realistis saja sebab tidak mungkin kami membangun perpustakaan sekolah. Tapi, bukan berarti kami tidak memiliki alternatif lain.

Jika kamu tertarik untuk bekerja sama silakan kunjungi https://kitabisa.com/pengadaanbuku

*Pada bulan September 2018 lalu, sekolah memperoleh bantuan dari pemerintah untuk membangun dua ruang kelas baru dan empat toilet. Keduanya masih dalam proses pembangunan.
*cerita ini ditulis oleh Mayang. Dia adalah manusia yang percaya bahwa hidup harus dijalani dengan sederhana.