Tempurung; Sebuah Refleksi

Pertama-tama yang harus kulakukan untuk mengulas sebuah buku adalah memperkenalkan buku tersebut. Tapi aku terlalu malas untuk melakukan itu. Maksudku kadang-kadang segala sesuatu hal menjadi membosankan ketika kita melakukan hal yang banyak orang lain lakukan juga. Jadi, kamu cari tahu sendiri dong! Bukunya masih bisa kamu beli di toko buku kok! Tapi, kalau kamu miskin seperti aku, kamu bisa membacanya di iPusnas.

Aku beri tahu ya! Tempurung adalah salah satu novel karya Oka Rusmini. Kamu tahu siapa dia? Kalau tahu bagus, kalau tidak tahu bisa bertanya kepada Google.

Tempurung adalah sebuah novel tentang hidup para perempuan berhadapan dengan tubuhnya, agama, budaya, dan masyarakat. Cerita ini mengisahkan perempuan-perempuan yang hidup di dunia perkawinan, tetapi di sisi lain mereka butuh anak, kasih sayang, cinta, perhatian, dan sentuhan.

 

Perempuan-perempuan yang mencari cinta, kasih sayang, impian, bahkan mereka sendiri tidak tahu keinginan mereka, apa yang mereka mau, dan kadang mereka juga takut bermimpi.

 

Inilah novel tentang tubuh perempuan yang sesungguhnya tidak jadi milik mereka sendiri. Bahkan sering kali mereka juga gagap berhadapan dengan tubuh sendiri. Tubuh yang kadang tidak mereka kenal. Inilah kisah perempuan-perempuan yang tidak tahu apakah menjadi perempuan adalah sebuah anugrah atau justru kutukan.

Aku pikir kalimat-kalimat di atas sudah memberitahumu mengenai isi buku ini. Tapi aku tetap akan bercerita kepadamu supaya kita dekat dan saling memahami.

Kira-kira ada empat belas tokoh perempuan yang diceritakan secara bergantian di buku ini. Masing-masing tokoh diceritakan dengan latar waktu yang berbeda. Tokohnya banyak ya? Iya. Tetapi Oka menuliskannya dengan rapi meskipun tidak ada hubungan sebab-akibat, jadi kamu bisa menggambarkan keterkaitan antar tokoh dengan menggambarkan silsilah keturunannya. Tapi, kalau ingatanmu bagus, ya, tidak perlu.

Gagasan di dalam buku ini memang tidak baru. Isu yang diangkat juga sudah sering kita dengar di mana-mana. Namun, Oka berhasil memberikan pengalaman langsung kepada pembaca mengenai isu-isu yang diangkatnya dalam narasi yang ringan dan mudah dipahami.

Norma Sosial

Seluruh tokoh yang diceritakan di buku ini selalu terjerat dengan norma sosial yang ada pada saat itu. Aroma lokalitas juga berhasil dinarasikan oleh Oka. Katanya itu sengaja ia lakukan untuk mendokumentasikan budaya Bali.

Ideologi Patriarki memang mendominasi di seluruh pandangan masyarakat dunia. Pandangan ini membentuk prinsip oposisi biner. Artinya ada yang menguasai dan ada yang dikuasai. Perempuan selalu berada di posisi yang negatif dan merugikan. Sedangkan laki-laki berada pada posisi yang dominan.

Dominasi laki-laki membuat perempuan menderita. Di dalam buku ini, tokoh laki-laki digambarkan pengecut, sering melanggar komitmen, dan tidak bertanggung jawab. Namun, laki-laki selalu mendapat posisi yang aman dan menguntungkan.

Pada kisah Nori, misalnya, ayahnya berselingkuh dan memberikan anak-anaknya kepada orang lain. Oka menggunakan analogi ‘seperti sepotong kue’ untuk menggambarkan betapa tidak bertanggung jawabnya figur Ayah bagi Nori. Selain itu, pada cerita Simpleg. Ayahnya digambarkan kasar. Suka memukuli ibunya. Namun, sang ibu seperti tidak memiliki kuasa untuk melawan meskipun sudah berdarah-darah.

Oka jelas mengkritisi norma-norma sosial yang hidup dari masa ke masa di dalam kehidupan masyarakat kita. Pernikahan tidak selalu membahagiakan. Jeratan konsep pernikahan selalu merugikan pihak perempuan dan melahirkan bentuk-bentuk kekerasan. Dan semua perempuan mengalami ini terlepas dari kelas sosial yang dimilikinya.

Salah satu kisah datang dari tokoh Rosa. Ia memiliki Ibu yang, katakanlah, menanggung beban ganda. Ibunya pergi bekerja setiap hari, juga melayani keluarga di rumah. Ia harus bangun pagi-pagi, membersihkan rumah, merawat sang anak, menyiapkan sarapan, berangkat kerja, kemudian pada malam harinya menyiapkan makan malam. Sedangkan sang Ayah, menjadi figur bayangan. Ayahnya pergi bekerja dan tidak bisa memainkan perannya sebagai Ayah maupun suami bagi Ibunya Nori. Namun sang Ayah memperoleh perlakuan yang baik. Tidak ada yang protes.

Feminisme

“Harga diri perempuan ada di tingkah laku, pikiran, dan cara dia mengambil keputusan untuk terus maju dan berkembang. Cara-cara yang sehat dengan tidak menjual tubuh dan berlaku genit.” -halaman 302

Narasi-narasi feminisme begitu terasa di buku ini. Penulis menghadirkan karakter perempuan yang hidup secara mandiri dan melawan norma-norma sosial. Mereka tidak percaya dengan peran perempuan yang dibuat oleh budaya dan agama. Mitos-mitos keperempuanan coba dikritisi oleh Oka di sini.

Selain posisi perempuan dalam masyarakat, Oka juga menghadirkan narasi seksualitas perempuan. Ketika kisah Songi diceritakan. Oka menghadirkan percakapan sekelompok perempuan yang membicarakan tubuh mereka di tempat ibadah yang saat itu dianggap tabu. Penulis mencoba mengatakan bahwa itu penting dan bukan sesuatu yang menjijikan.

***

Buku ini memberikan pengalaman kepada pembacanya mengenai hidup perempuan. Buku yang begitu suram dan mengerikan. Saya pikir Oka berhasil merefleksikan kehidupan perempuan dalam berbagai sisi yang membawa kita untuk kembali mempertanyakan posisi tawar perempuan dalam dunia patriarki.

*tulisan ini ditulis oleh Mayang. Dia adalah manusia yang percaya bahwa hidup harus dijalani dengan sederhana.