Teater Kita yang Penuh Drama

Ada saja orang memancing saya buat ikut komentar ihwal peristiwa sahut-sahutan di Facebook antara guru saya Abah Sarjang, dan kawan saya Hendri Pramono. Di komunitas manapun, termasuk di teater, selalu ada orang yang merasa dirinya paling besar, paling bisa, untuk kemudian mengejek kecerdasan orang lain. Orang yang memancing saya adalah salah satunya.

Bukan kali pertama, saling berbalas komentar di Facebook berbuntut drama panjang. Jadi panjang bukan oleh dua pihak yang saling silang pendapat. Tapi adanya satu-dua orang yang meniup angin di tengah bara. Saya kok jadi curiga, dia ini selama proses di teater, ngapain aja? Jadi kipas angin? Mulutnya kok mirip baling-baling.

Barangkali menilik pengalaman itu, Abah dan Hendri bisa saling menahan diri. Lagipula apa urgensinya memanjang-manjangkan konflik bagi kelangsungan teater di Karawang, selain memuaskan ego pribadi?

Saya tidak akan memilih benar-salah dalam persoalan ini. Selain tidak pandai menyalahkan orang lain, saya menghormati Abah Sarjang dan bersahabat dengan Hendri. Dua kombinasi ini cukup, setidaknya bagi diri saya, untuk tidak terpancing (dipancing) dalam manajemen konflik. Pun, saya toh tidak akan mencari aktor intelektual yang menggoreng ini. Sebab, kegagalan seorang aktor intelektual adalah ketika hanya segelintir orang yang terpancing, dan konfliknya cepat redam. Tapi saya tahu orangnya. Bisik-bisik saja ya. Jangan beri panggung.

Sebenarnya, berbalas komentar pakai bahasa pedas, lazim terjadi di dunia seni. Di dunia sastra, kondisinya lebih parah. Mengapa contohnya dari dunia sastra? Karena saya menulis di situs milik komunitas Semesta Literasi, dan pengetahuan saya (yang jumlahnya sedikit) berasal dari dunia tulis menulis.

Papa Hemingway, penulis yang pandai bertinju, dikritik Max Eastman soal tulisan nonfiksi Death in the Afternoon. “Berhentilah sembunyi di balik bulu dada palsumu, Ernest. Kami semua kenal kau,” ujar Max ke Papa, sebagaimana saya kutip dari tirto.id. Saat keduanya bertemu, membuka kancing bajunya, Papa berkata, “Lihat baik-baik, Max, apa ini terlihat palsu?” Atas keberanian Papa ini, saya membayangkan Santiago di punggung perahu sedang bertarung dengan seekor Marlin raksasa. Karakter berani Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut (terjemahan Pustaka Jaya, judul asli: The Old Man and the Sea) benar-benar tergambar dalam diri Papa. Mestinya begitu. Karya adalah pantulan dari pembuat karya. Ia mengkristal dari segala yang dimiliki juga dialami pembuat karya. Bila sikap pembuat karya justru berlawanan dengan karyanya, itu berarti dua hal. Karyanya tidak jujur. Atau dia plagiat.

Adegan pertemuan Papa dan Eastman ditutup dengan timpukan buku dari Papa ke arah muka Eastman.

Mark Twain yang terkenal itu, mengomentari Jane Austen dengan kalimat, “Setiap kali membaca¬†Pride and Prejudice, aku ingin menggali Austen dari kubur dan menggetok kepalanya dengan tulang keringnya sendiri.” Tidak berhenti di situ, mulut pedas Twain mengkritik James Cooper, “Di dunia ini ada orang-orang nekat yang menyatakan bahwa Cooper sanggup menulis dalam bahasa Inggris, tapi mereka semua sudah mati.”

Seperti karma, giliran Twain kena kritik. Pada Twain, William Faulkner bilang, “Twain tak lebih dari penulis abal-abal, penulis kelas empat dalam ukuran Eropa.”

Edgard Allan Poe, bapak cerita detektif yang mengawali kisahnya jauh sebelum Holmes-nya Conan Doyle dan fiksi Agatha, dikritik Henry James dengan kalimat, “Minat terhadap karya Poe adalah tanda kemampuan berpikir tingkat primitif.” Sadis? Iya. Padahal, semua orang di zaman ini tahu, semua teknik penulisan cerita detektif dan misteri mengandung embrio cerita Poe.

Virginia Woolf, penyair keren dengan akhir hidup tragis, dikritik Edith Sitwell dengan kalimat, “Karya Virginia Woolf itu cuma rajutan yang mempesona.” On the Road-nya Jack Kerouac yang versi bahasa Indonesia-nya diterjemahkan penerbit Banana-nya Mas Yusi, dianggap Truman Capote sebagai naskah ketikan belaka.

Di Indonesia, kamu kira tidak ada hal semacam itu? Kamu salah. Dea Anugrah, di akun Twitter-nya, menyatakan kalau novel Pramoedya Ananta Toer ditulis dengan bahasa Indonesia kelas dua. Sebelumnya, saat masih muda, Pram dikritik oleh Idrus, penulis buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. “Pram, kamu itu tidak menulis. Kamu berak!” Jahat betul, yha~

Penyair Chairil Anwar dibantai habis oleh kurator sekaligus sahabatnya sendiri HB. Jassin lantaran karyanya dianggap plagiat. Kasus plagiasi itu salah satunya menimpa puisi Krawang-Bekasi yang mirip dengan puisi Young Dead Soldier.

Kamu bisa menambah daftar makin panjang. Tapi, kamu lihat sendiri, dunia sastra tetap sehat walafiat meski tokoh-tokohnya saling kritik. Dunia teater (mestinya) juga begitu.

Jadi adalah wajar bila insan seni saling melempar kritik. Yang tidak wajar adalah ketika ada pihak-pihak lain memanfaatkan itu sebagai konflik. Dibikin panjang. Untuk orang-orang seperti itu, kita hanya perlu beri pesan: hey bung, kalau mau drama, di panggung saja. Jangan di sini.

*F. Yuhri. Lelaki yang tidak percaya kiamat. Dan menyukai nasi bebek.