i am Bad Genius

jika kita tidak curang, hidup yang akan mencurangi kita. – Bad Genius

Kebohongan ada di mana-mana. Termasuk di dalam pikiran anak-anak. Meskipun diberi kesempatan untuk jujur, pada kenyataannya kita tetap berbohong juga. Padahal tidak ada yang meminta kita berbohong. Kita hanya takut pada kejujuran dan menjadi orang yang tidak pernah berani. Padahal hidup, ya, begini-begini saja. Menurut Yuval di dalam bukunya bahwa perasaan manusia memang sangat fluktuatif, tidak ada kebahagiaan dan penderitaan yang berlangsung selamanya melainkan datang bergantian. Kita jauh dari kejujuran dan dekat dengan kebohongan. Maka, kita pun jauh dari keberanian dan dekat dengan ketakutan.

Bad Genius adalah film yang berasal dari Thailand dan diproduksi oleh rumah produksi GDH 559 yang berhasil memukau saya sejak menit pertama. Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying) si jenius di sekolah – namanya benar-benar mengingatkan saya kepada nama penulis jenius muda Indonesia Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang sulit diingat dan dilapalkan – mencoba untuk membantu Grace (Eisaya Hosuwan) yang kesulitan dalam menjawab lembar soal matematika padahal sudah les selama berminggu-minggu bersama guru yang sama di sekolahnya untuk menghadapi ujian pertengahan semester.

Hari menyeramkan untuk siapa saja yang menjadi siswa itu pun tiba. Soal dan lembar jawaban dibagikan, kemudian Pak Matematika -saya benar-benar lupa namanya- mengatakan bahwa matematika itu bukan pelajaran yang mudah, dan ia pun mengatakan, “itulah sebabnya kalian (siswa-siswi) harus ikut les matematika kepada saya di luar sekolah”. Ketika Lynn mulai mengerjakan lembar soal ujian tersebut, ia kemudian menyadari bahwa seluruh soal dibuat sama persis dengan lembar soal yang ditunjukan oleh Grace saat di perpustakaan. Perkataan guru tersebut semakin masuk akal arahnya.

Film ini terinspirasi dari pemberitaan mengenai pembatalan nilai SAT setelah terbongkarnya praktik kecurangan meyontek massal di Tiongkok. Tidak perlulah jauh-jauh melihat berita menyontek massal yang kerap kali dilakukan oleh siswa-siswa di China hingga pemerintah menerapkan peraturan untuk menjatuhi hukuman pidana 7 tahun penjara bagi yang menyontek. Di Indonesia saja, maksud saya, di sekolah saya saja praktik contek-menyontek telah membudaya hingga muncul penilaian kepada mereka yang tidak menyontek dianggap sombong, sok pintar, dan tidak ditemani.

Loncat ke perguruan tinggi, kisah berbagi jawaban atas nama solidaritas angkatan juga kerap menjadi pemicu semakin membudayanya tindakan ketidakjujuran ini. Hampir seluruh siswa pernah mengalami dan mengakrabi masa seperti ini. Di sisi lain, semua orang ingin generasi ke generasi semakin baik dalam membangun negeri, tetapi praktik ini bahkan diturunkan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi panutan itu sendiri.

Film yang memenangkan kategori Best Feature di ajang New York Asian Film Festival 2017 (Nyaff) ini juga menunjukan bagaimana anak-anak sekolah memperoleh tekanan dari keinginan orang tua mereka untuk masuk ke perguruan tinggi ternama, mereka ditekan oleh besarnya tuntutan untuk mencapai standar hidup yang ditentukan oleh orang tua dan dibayangi oleh berbagai ancaman yang menakutkan. Para aktor berhasil menggambarkan kondisi psikologis yang dialami oleh karakter di dalam cerita. Bagaimana mereka harus bahagia?

Hal ini dialami oleh si kaya Pat (Teeradon Supapunpinyo) dan teman-temannya sampai tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan kecuali membayar Lynn untuk membocorkan kunci jawaban pada saat ujian sekolah. Lalu hasil apa yang akan diperoleh dari kasus ini? Adalah pelajaran bahwa dengan uang segalanya mudah. Dengan kekuasaan segalanya selesai. Jadi, jika kita saja tidak bisa memahami anak-anak kita, masih mau menuntut mereka menjadi anak yang jujur dan tidak pemarah? Kemudian kita hanya akan melahirkan anak-anak yang tumbuh dengan relasi kuasa, otoritas, dan sebagainya.

Kasus di atas juga saya temui di sebuah drama Korea yaitu School 2017. Digambarkan di situ bahwa betapa gilanya anak-anak dituntut dengan keras, belajar siang-malam, hingga tidak bisa melakukan hal lain lagi demi ambisi orang tua mereka yang kaya raya. Mereka dibuatkan kelas khusus berdasarkan ranking dan harta mereka oleh sekolah sebab mereka memiliki akses. Bagaimana kita mengharapkan kejujuran jika kita saja lebih akrab dengan kecurangan? Jika kau jujur, maka kau akan dianggap hijau dan kurang pengalaman. Sindiran halus terhadap hidup manusia oleh Natsume Soseki di dalam bukunya.

Bad Genius semakin memukau di menit-menit selanjutnya sehingga saya tidak ingin melewatkan satu adegan pun. Bagaimana mungkin hanya sekadar menjawab soal pilihan ganda benar-benar membuat kita tegang? Budaya korup di sekolah dan tidak “stabilnya” sistem pendidikan yang membentuk bisnis sontek-menyontek berharga jutaan dolar untuk mereka – Lynn dan Bank (dua siswa beasiswa yang jenius- menjadi bisnis menggiurkan. Film ini berhasil membawa kita pada kebimbangan untuk mengambil kesempatan memperoleh uang dengan berbuat curang atau menjadi jujur saja. Kebimbangan itu terus datang ketika proyek-proyek kunci jawaban saat ujian datang kepada tokoh Lynn. Jadi, maafkan kami jika tidak bersungguh-sungguh, karena selama ini apa yang kami terima bukan kesungguhan tapi bisnis perut yang berkepanjangan.

Sejak kecil kita sudah diajarkan bahwa hidup hanya berisi tentang kalah dan menang. Angka-angka menentukan pintar atau bodohnya kita. Dalam School 2017 dan Bad Genius seperti menunjukan ketidakmampuan sekolah, peran orang tua, dan segala komponennya tidak berfungsi dengan adil dan seharusnya. Apa yang sebenarnya menjadi tujuan kita? Sekolah bukan menuntut, tapi memberi jalan untuk menuju kepada impian-impian indah dari kepala-kepala mereka yang mulia. Sekolah bukan didirikan untuk menilai kau bisa atau tidak bisa.

Bad Genius dikemas dengan apik dan akrab dengan kita. Naskah racikan Nattawut bersama Tanida Hantaweewatana dan Vasudhorn Piyaromna terkesan kompleks dan membawa kita ke dalam setiap adegan film ini, termasuk menggunakan cara-cara unik untuk memberi kode-kode tertentu yang menandai jawaban dari soal ujian, seperti mengilustrasikan kunci nada untuk piano. Selain itu saya jatuh cinta dengan pengambilan gambar dan tata kamera yang rapi dan lincah dari Phaklao dan tentu saja suntingan gambar menjadi kunci keselarasan cerita yang bikin penonton penasaran.

Sekolah adalah kesenangan dan impian, harapan saya begitu. Hal baik yang bisa saya ambil dari film ini adalah, pertama betapa menyenangkannya menjadi jenius, kau hanya perlu berusaha lebih keras. Kedua, kecurangan adalah kecurangan, yang nantinya akan selalu menghantui kita dan dimintai pertanggung jawaban. Ketiga, kejujuran itu tidak menyusahkan. Keempat, nyatanya hidup ini bukan pilihan ganda, tapi soal esai yang jawabannya hanya bisa kau isi dengan kemampuanmu. Kelima, selain ketemu polisi yang lagi operasi di jalan, menyontek adalah pekerjaan yang membuat jantung –deg-deg ser- sebab itu adalah perilaku yang salah.

Mungkin apakah selama ini kita hanya selalu mencari alasan atas ketidakmampuan kita melakukan hal-hal yang baik?

*
NM