Pengakuan Seorang “Aku” pada ODHA

Perkenalan pertama saya dengan ODHA (sebutan untuk orang yang terkena HIV/AIDS) beberapa tahun silam saat melakukan penelitian untuk tugas akhir kuliah. Penelitian itu dilakukan di Surabaya di sekitar lokalisasi Dolly. 

Hari itu narasumber penelitian saya (selanjutnya kita sebut Ibu X) adalah seorang aktivis sosial di bidang kesehatan, dia melakukan kerja-kerja sosial untuk mengedukasi para pekerja seks di sekitar tempat lokalisasi untuk melakukan cek kesehatan rutin dan mengedukasi soal risiko terkena HIV/AIDS.

Sampai akhirnya dia menceritakan soal salah satu anak yang ditampung di rumahnya. Sebut saja “A” seorang anak yang dari luar memang terlihat sedikit lemas dan kurang sehat, sampai akhirnya Ibu X mengatakan bahwa anak itu telah dinyatakan terkena HIV. Sontak saya kaget, sampai akhirnya berani bertanya, “Kok Bisa?” Dengan tetap melanjutkan aktifitasnya Ibu X menjawab, “Iya, tertular dari si Ibu yang sudah dinyatakan positif lebih hulu selama mengandung, makanya pas lahir anaknya dikasih saya, katanya dia gak sanggup rawatnya!” Saya ingat betul respon saya saat itu selain kaget langsung mengambil air minum yang disuguhkan dan selanjutnya melakukan kebodohan yang sampai hari ini saya ingat dan sesali.

Apa itu? Pertanyaan selanjutnya yang saya lontarkan, benar-benar membuat saya menyesal sampai detik ini setelah proses tugas akhir itu selesai dan berhasil. Dengan tanpa ragu saya bertanya, “Apakah Ibunya seorang pekerja seks di lokalisasi?” Jawaban yang diberikan Ibu X sampai mimik mukanya masih terekam jelas dalam ingatan saya. Dengan senyum getir dia berujar, “Hahaha, itulah masyarakat kita ini sering sekali menganggap pekerja seks ini dalang utama yang menularkan HIV. Jika kamu tahu, Ibu anak ini Ibu rumah tangga biasa, sehari-hari pekerjaannya sebagai buruh cuci di rumah orang lain. Gak ada urusannya sama pekerja seks di lokalisasi.”

Detik itu juga saya tertunduk malu, mengutuk diri saya, mengakui kebodohan yang telah saya lakukan. Bagaimana mungkin saya melakukan stigma pada aktor yang fenomenanya sedang saya teliti. Saya telah melakukan kejahatan secara tidak langsung pada anak tak bersalah tersebut, pada Ibunya dan tentu saja pada si Ibu X.

Padahal telah banyak riset dan penelitian saya baca, telah saya minta beberapa teman aktivis HIV/AIDS di Jakarta untuk mengirimkan data dan bahan penelitian, di kelas perkuliahan saya ingat betul pernah membela LGBT dan pekerja seks soal tak ada kaitannya mereka dengan HIV/AIDS, bahwa dalam beberapa kasus mungkin iya tapi fakta lain adalah bahwa banyak juga ibu rumah tangga biasa yang terkena HIV/AIDS.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI pernah merilis hasil temuannya soal HIV/AIDS. Jumlah Infeksi HIV yang dilaporkan menurut faktor risiko tahun 2010 sampai dengan September 2014 infeksi dominan terjadi pada heteroseksual. Selain itu jumlah kumulatif AIDS yang dilaporkan menurut jenis pekerjaan pada tahun 1987 sampai dengan September 2014 yang terkena AIDS di Indonesia paling banyak berasal dari kelompok ibu rumah tangga, diikuti wiraswasta dan tenaga profesional.

Saya berkali-kali membaca hasil penelitian tersebut yang terkonfirmasi saat wawancara santai dengan beberapa teman yang fokus pada isu tersebut sebelum pergi ke lapangan. Tapi saat saya berhadapan langsung dengan mereka, ternyata saya gagal. Kejadian itu begitu membekas, entah dengan apa saya perlu menebus dosa kebodohan itu.

Pengalaman beberapa tahun silam itu begitu membekas, untuk saya jadikan pelajaran dan pengalaman bahwa kadang ilmu pengetahuan tak serta merta mampu mengikis setan stigma yang ada pada semua manusia.

Sampai akhirnya saya mengalami sebuah kejadian dua minggu lalu, yang mengikatkan saya pada cerita yang telah saya bagikan di atas.

Saya menemukan seseorang dengan ODHA yang hadir dengan sangat tak terduga namun mampu menginspirasi. Sedang menyelesaikan studinya di Belanda, kita sebut saja dia Angin. Saya kirimi Ia direct message, tentu untuk ungkapkan ketertarikan saya padanya yang selama kurang dari dua minggu ini menghantui alam bawah sadar saya, hanya satu kalimat yang menimbulkan banyak persepsi dan rentetan pertanyaan harusnya, tapi Angin membalas dengan jawaban, “Waduh jangan, Saya ODHA.”

Kecewa? Oh tentu saja. Bukan karena mendapat penolakan itu tapi karena, harusnya Angin tahu betul saat saya menulis kalimat pendek tersebut, bahwa saya tahu identitas dirinya sebagai ODHA. Jadi itu bukan alasan yang harusnya dia kemukakan.

Tapi setelah perenungan yang memakan waktu (dan saya benci ini) saya paham, yang saya lakukan pasti tidak hanya freak tapi juga terkesan bodoh. Bagaimana mungkin tanpa tendeng aling-aling saya menyatakan ketertarikan diri ini padanya. Angin mungkin kaget dan secara langsung melakukan pertahanan diri dengan bicara seperti itu.

Seorang teman berseloroh, “Cukup, jangan masukan dia dalam drama picisan lo yang bahkan gue bisa tebak akhirnya. Kita gak tahu bagaimana dia berjuang sampai sejauh ini, jangan diteruskan.”

Teman lain lebih menjengkelkan, “Jangan masuk terlalu dalam atas hal yang bahkan lo gak yakin bisa tanggung jawab!”

Baiklah, mungkin sekali lagi saya melakukan kebodohan.

Cerita ini ditulis, untuk mengakui kebodohan yang kerap saya lakukan. Sekaligus pengakuan diri untuk memohon maaf.

Saya tidak bisa menulis rentetan kalimat motivasi, kalimat ajaib bak Mario Teguh atau hal-hal indah lainnya. Karena bagi saya, Angin, Si Ibu X, Si Anak yang ditinggalkan Ibunya, Si Ibu yang tak tahu menahu akhirnya terkena HIV, adalah motivasi dan keajaiban itu sendiri.

Mengenal mereka baik dari dekat dan jauh sekalipun, memberikan saya pelajaran bahwa hidup meski sangat berat, harus tetap dilanjutkan. Bahwa kita harus lebih kuat dari kehidupan itu sendiri. Karena kerasnya kehidupan tak pernah mengalah atas kita.

Terakhir, beberapa waktu lalu Angin berulang tahun. Saya beranikan diri untuk mengirimkan tulisan ini. Selamat Ulang tahun Angin, Kamu pergumulan antara kecerobohan dan kebodohan seorang “aku”.

*
Buihsabun.