Rumitnya Jatuh Cinta dalam Benturan Kesukuan

Nyatanya bahwa masih ada yang tak sanggup mengikuti jalan zaman. Mungkin karena takut kehilangan segala-galanya dari dunia lamanya. Mau mempertahankan sesuatu peninggalan – sekalipun yang terburuk. -halaman 23

Kisah cinta gadis Manado, Raumanen, terlahir dari keluarga yang begitu luas pandangannya dan memegang teguh Bhinneka Tunggal Ika. Bertemu dengan Monang orang Batak yang hidup dalam kurungan adat. Kisah cinta mereka berdua memperoleh kesangsian dari rekan-rekan Manen dan Monang sejak pertama kali bertemu.

Monang yang sejak lahir hingga dewasa tidak berdaya menghadapi hukum adat dan kemauan orang tuannya, membuat ia tidak bisa memperjuangkan apa yang menjadi pilihannya. Kondisi tersebut membuat Manen menanggung kesulitan berlebih dan konflik di dalam cerita semakin memuncak sebab ia mengandung seorang anak.

Begitulah cinta, membuat telinga menjadi kedap suara dan mata hanya mampu melihat yang indah. Kedua hal tersebut sudah cukup menjungkirbalikkan dunia ini, sebab asmara adalah kiamat yang sebenar-benarnya.

Sejak membaca buku Faisal Oddang dan esainya -saya tidak akan menuturkan lebih jauh, saya mencoba untuk mencari buku-buku yang mengangkat masalah kesukuan dan keagamaan di Indonesia -yang tentunya memiliki selera untuk dibaca. Raumanen diterbitkan tahun 1975 dan berhasil meraih tiga hadiah sastra. Tentu saja itu luar biasa meskipun ceritanya sederhana, namun penulis mampu mengangkat masalah keadaan sosial saat itu yang membuatnya menjadi karya yang menonjol diantara karya penulis perempuan lain pada masanya.

… hampir 20 tahun sesudah revolusi, sesudah dua windu lebih penduduk Nusantara berpengalaman hidup sebagai ‘orang Indonesia’, ternyata beban prasangka serta wasangka terhadap suku lain masih belum dapat dilepaskan orang dengan begitu mudah… -halaman 21

Diceritakan dari sudut pandang Manen, Monang, dan Narator. Pergolakan hati yang dialami tokoh berhasil digambarkan dengan jelas oleh Marianne Katoppo. Untuk menyampaikan kritik, yang memang pada tahun ’60-an, yang mengaharuskan seseorang memiliki pendamping hidup yang berasal dari suku yang sama. Kalau tidak saling membahagiakan, gimana? hehe~

Ketika saya membaca ini, saya merasakan penderitaan Monang yang frustrasi dengan kehidupan yang dijalaninya. Ia tidak bisa memilih pilihan hidupnya sendiri, mulai dari profesi hingga calon pasangan hidupnya. Di sisi lain, Monang, sebagai anak sulung berusaha untuk berbakti kepada orang tua dan keluarganya yang begitu ‘kolot’ akan adat Batak. Sehingga, cinta, yang katanya, mampu melawan dunia, perlu dipertanyakan kembali. Nyatanya kekuatan cinta tidak bekerja kepada semua orang, ada benturan doktrin adat yang lebih kuat ketimbang doktrin cinta. Eaaa. Dan semua doktrin membuat kita menderita 🙁

Penggambaran tokoh Raumanen yang begitu cerdas, terpelajar, lugas, dan mandiri sering kali menjadi santapan renyah para ‘kolot’ yang menganggap tidak menguntungkan jika seorang laki-laki memiliki istri yang demikian. Di sini penulis mencoba mengangkat warna feminisme dengan menggambarkan betapa tegarnya seorang perempuan, dan mempertegas kepengecutan laki-laki dalam menyelesaikan masalah. Tentang bagaimana Manen digambarkan sebagai masyarakat yang mampu merespon perkembangan zaman dan mengambil keputusan, sedangkan Monang tidak mampu berbuat apa-apa dan tunduk pada tradisi kesukuan yang membawanya larut dalam penyesalan seumur hidup.

Kisah cinta yang melibatkan perbedaan suku tidak hanya digambarkan oleh Manen dan Monang, tetapi juga beberapa tokoh lain yang berhasil ‘melepaskan diri’ dari hukum adat. Nyatanya, keberhasilan itu masih menimbukan permasalah antarsuku yang kemudian menganggap sinis kepada suku lain.

Dahulu diidam-idamkannya kemerdekaan dari penjajah Belanda. Sesudah enyah musuh bersama itu, tiba-tiba mereka dihadapkan dengan masalah hidup bersama sebagai satu bangsa. Bukan lagi sekian ratus suku. -halaman 21

Hari ini, saya juga masih menjumpai opini-opini tentang suku mana yang lebih baik dipilih untuk -misalnya, menikah dan bekerja karena alasan-alasan tertentu. Mengategorikan karakter seseorang berdasarkan sukunya, padahal bukankah sekarang kita semuanya orang Indonesia? Apakah manusia sendiri berwenang menentukan suku bangsa kelahirannya? -halaman 23

Kita lupa bahwa meskipun lahir di ‘tanah tertentu’ semua orang tidak bisa dipukul sama rata hanya berdasarkan ‘tempat’ kelahirannya. Bahwa kenyataannya perkembangan zaman bisa membuat kita lupa akan ‘tanah’ warisan leluhurnya termasuk bahasa. Bagi saya, semua orang berhak membuat ‘tanah’ yang baru, yang sesuai dengan zaman saat ia hidup. Bukankah semua manusia membuat peradabannya sendiri?

Gaya bercerita yang ditawarkan oleh Katoppo menarik dan tidak bertele-tele, membuat pembaca bersedia untuk mengikuti alurnya. Pembaca akan menebak-nebak di mana keberadaan Manen saat menceritakan kisahnya bersama Monang. Narasi yang dituturkan oleh penulis begitu tenang dan indah tetapi tidak cengeng. Buku ini ringan dibaca, dan menyadarkan kita betapa ada seseorang yang mungkin menderita ketika kita bersikeras memegang teguh sesuatu yang sudah ada sebelum kita dilahirkan -yang tidak kita sepakati. Perubahan selalu dikritik, ya memang, tapi seperti kata Katoppo: “Semakin banyak perubahan, semakin banyak hal yang tidak akan pernah berubah.”

*

*ulsan ini ditulis oleh Mayang. Dia adalah manusia yang percaya bahwa hidup harus dijalani dengan sederhana.