MENJADI PUNK BERSAMA DITA DAN SPEKULASI YANG MUNCUL DIBALIK POTONG RAMBUTNYA ADIS

Copy of FILM OR THEATRE FLYER TEMPLATE

Publik dikejutkan oleh tiga kejadian beruntun, tiga hari belakangan ini. Dita Hanifah yang berencana menempuh jalan sunyi seorang punk, Adis Puji Astuti yang potong rambut, dan Kak Setya Novanto yang ditetapkan sebagai tersangka KPK. Yang terakhir, boleh dibilang, tidak terlalu mengejutkan. Selain di pesta ulang tahun, kita sudah terbiasa dengan pertunjukan badut di Senayan. Bedanya, badut Senayan difasilitasi kemampuan sulap. Tentu, trik sulap yang diulang-ulang bikin cepat bosan. Kak Setya jadi tersangka, sopir mobil matik tiba-tiba muncul jadi pakar, isu digoreng jadi bola panas, dan seterusnya dan seterusnya. Ya, sulit sekali menikmati sebuah pertunjukan yang semua aktornya ingin jadi pahlawan. Tak ada yang mau jadi penjahat.

“Punk adalah jalan hidup, bang. Seperti jalan ninjanya Naruto. Atau ideologi kebebasannya Monkey D. Luffy, calon raja bajak laut,” ujar Dita memaparkan niat sucinya. “Oleh sebab itu, punk bukan hanya sekadar perlawanan. Sebenar-benarnya punk adalah antitesa kapitalisme. Ia lebih ampuh dari Marxisme Lenin.”

Punk memang sering disalahgunakan, sebagaimana anak-anak ingusan di luar sana menyalahgunakan potret Kamerad Che Guvara di kaos-kaos distro. Atau penerbit yang menjual buku Madilog dengan harga selangit. “Sungguh perbuatan keji. Teori anti kapitalisme justru dijual dengan cara paling kapitalis,” kata Dita. Geram. Punk diidentikkan dengan pemberontakan, anti kemapanan, kaos hitam, baju belel, tato, dan tindik. Seolah-olah, punk adalah obat batuk OBH beracun yang harus dijauhkan dari remaja. “Itu karena ulah segelintir orang yang menyalahgunakan punk.”

Sementara itu, sampai tulisan ini dimuat, saya kesulitan mengonfirmasi Adis soal gaya rambut barunya. Memang, selain Ketua Semesta Literasi Neng Mayang, Adis adalah salah satu sosok yang sulit dihubungi. Seolah, dua anak muda itu hidup di masa lalu. Sukar dihubungi operator manapun. Atau memang jangan-jangan, mereka masih terjebak dalam kenangan orde baru, yang boro-boro bisa buka WhatsApp, koran dan televisi saja begitu mudah diberedel. Kalau Dita, jangankan WhatsApp dari saya, pesan dari gebetannya saja ia balas kok. Padahal si gebetan sudah jelas-jelas PHP. “Punk taboleh cengeng bang~” kata Dita, dalam pesan WhatsApp.

Saya kemudian menerka-nerka, adakah hubungan antara Adis, Dita, dan Setya Novanto? Sebelum saya lanjut, mohon buang persepsi negatif kamu soal cocoklogi. Cocoklogi itu penting. Bisa bikin orang kaya. Kalau tak percaya, coba tanya Jonru.

Joan of Arc, perempuan 19 tahun yang memimpin ribuan pasukan di bawah bendera Prancis, kabarnya punya gaya rambut yang sama dengan Adis. Joan, atau Jeanne dalam ejaan Prancis, juga diklaim sebagai tokoh punk dari abad 14. Tak ada satupun di dalam diri Joan yang tidak punk. Ia berani, kharismatik, pandai menunggang kuda, jago memanah, pandai, dan gesit. Aa Gym juga pandai menunggang kuda dan jago memanah, tapi ia sama sekali tidak punk. Seorang punk tidak boleh poligami. Kebetulan, Dita Hanifah tidak bisa mengendarai motor. Aplikasi Grab, Gojek, selalu ada di hapenya. Tentu, saat jadi punk, dan memimpin pergerakan punk dari gorong-gorong menuju lorong-lorong parlemen, mobilitasnya akan sangat tinggi. Satu-satunya pilihan yang mungkin adalah mengendarai kuda. Dita saya prediksi akan belajar naik kuda. Kak Setya cocok jadi gurunya. Lho kok?

Lha, Golkar dan DPR saja bisa ditunggangi Kak Setya kok. Ingatan publik soal Papa Minta Saham bisa dibikin lupa kok. Hal sepele seperti menunggangi kuda, bagi Kak Setya, bukan perkara sulit. Nanti, kita akan lihat drama baru republik ini. Drama guru lawan murid. Seorang punk akan meneriaki gurunya sendiri, menyitir kalimat Kamerad Che: perjuangan melawan penindasan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Oleh: Bambang With Love

*

Originally post at our old website onĀ https://wordpress.com/post/semestaliterasicom.wordpress.com/572