KAK CHESTER DAN KENANGAN-KENANGANNYA

BURBANK, CA - MAY 22: (EDITORS NOTE: Image has been converted to black and white.) Chester Bennington of Linkin Park performs on stage at the iHeartRadio Album Release Party presented by State Farm at the iHeartRadio Theater Los Angeles on May 22, 2017 in Burbank, California. (Photo by Rich Fury/Getty Images for iHeartMedia)

Jangan lupa putar Heavy-nya Linkin Park sambil baca ini ya.

Pulang dari tempat kursus Bahasa Inggris, waktu SMP, saya memutuskan beli album Meteora-nya Linkin Park. Ini bukan kebetulan semata. Setelah saya mengidolakan Sheila on 7, saya merasa perlu mengidolakan musisi luar negeri. Di antara banyak pilihan, saya pilih Linkin Park setelah melihat konsep video klip mereka yang aduhai di MTV (Global TV).

Akbar, seorang kawan kursus saya, bilang kalau Metallica itu keren adanya. Kawan saya yang lain, entah mengerti atau tidak, mengangguk setuju. Waktu itu memang sedang musim anak nongkrong–sebutan remaja penonton MTV Ampuh dan acara di bawah bendera MTV lainnya. Akbar menyetel keras-keras pita kaset Metallica di–saya tak maksud sebut merk lho–Walkman bajakan produk Cina. Saya diam saja, sambil diam-diam berbisik dalam hati: sial. Referensi musik aing payah. Aing sangat cupu. Aing malu.

Saya baru tahu, kaset musisi luar negeri ternyata mahal banget. Dua kali lipat harga album Pejantan Tangguh-nya Sheila on 7. 40 ribu rupiah. Sebagai pembanding, bekal sekolah saya hanya 5 ribu rupiah. Sudah bisa beli nasi uduk, air mineral, dan ongkos angkot pulang pergi. Pindah toko, saya mencari lapak amang-amang pedagang kaset bajakan. Harga VCD bajakan hanya 5 ribu rupiah. Berarti masih ada pamulangan 15 ribu rupiah. Kalau dibelanjakan Majalah Misteri, masih ada sisa 7.500 rupiah. VCD Meteora bajakan akhirnya dibawa pulang bersama dengan perasaan bangga: saya resmi jadi anak paling gaul di Karawang.

Tapi tetap saja saya tak bisa pamer kegaulan. Walkman saya–yang juga bajakan–tak bisa disuapi kaset VCD. Dengan janji akan tobat nasuha, saya putuskan untuk Uniko. Sebagai catatan, Uniko itu mirip Edo Tensei. Terlarang, tanpa efek samping, dan bikin ketagihan. Uniko akronim dari–bapak ibu, maafkan anakmu–Usaha Nipu Kolot.

Seperti prediksi, album original Meteora memuat teks lirik lagu. Ini tak bisa saya dapatkan di VCD bajakan yang subtitle-nya ngawur dan semua-maunya. Keuntungan ganda kan, pamer skill Bahasa Inggris sambil pamer referensi musik. Apa gak top tuh? Gaul tulen kan aing?

Kak Chester Bennington ada di dalam hati, bersisian dengan Mas Duta, tentunya. Sampai sekarang. Sampai saya dengar kabar tidak mengenakan itu, tadi pagi (catatan redaksi: tulisan ini ditulis pada hari yang sama saat Kak Chester meninggal). Mengenang Kak Chester adalah juga mengenang masa kecil saya. Masa di mana saya tumbuh dengan lagu Numb, Crawling, In the End, My December. Masa di mana saya bilang: apa-apaan dengan 30 Seconds to Mars yang kostumnya norak itu. Mending Linkin Park dong (sambil dalam hati iri dengan Kakak Jared Leto yang anjir sudah tampan, jago nyanyi, akting, dan sixpack). Masa di mana Pak Harto sudah lengser, Kak Amien Rais masih idealis, dan Indonesia dipimpin Mbak Mega.

Peter Ustinov, dalam Aftertaste menulis begini, “Tidak ada gunanya mati kalau kamu tidak menghantui seseorang. Kalau kamu tidak meninggalkan satu asa.”

Kak Chester sudah melakukannya. Kematiannya menghantui pikiran banyak orang dalam dua jalan. Pertama, karya-karyanya. Kedua, kesadaran kalau di luar sana, depresi bukan penyakit yang bisa sembuh hanya oleh obat. Pada mereka, kita perlu mengulur tangan, membuka peluk, memberi bahu, menyediakan telinga.

Jadi dewasa memang merepotkan. Mungkin itu juga yang dipikirkan Kak Chester. “I hurt much more, than anytime before, I had no options left again.” Begitu kata Kak Chester diBreaking the Habit. Saya jadi tiba-tiba ingat Om Robbin Williams, idola saya yang lain, di film Dead Poets Society.

Barangkali, di dunia orang mati, Kak Chester akan memanggil-manggil Om Williams. “Sir… sir.
Om Williams anteng saja. Jalan santai. Pura-pura tak dengar.
O captain my captain!
Lalu mereka ngakak bareng. Menertawai hidup.

*

Awalnya ditulis untuk Mojok, seperti beberapa tulisan saya di website ini. Tapi ditolak. Makanya saya post ke sini.

Ditulis oleh: Bams Gudang Garam Surya

*

Originally post at our old website on https://semestaliterasicom.wordpress.com/2017/07/23/kak-chester-dan-kenangan-kenangannya/