Lebih Dekat dengan Pelaku Peristiwa 15 Juni dari Sudut Pandang Orangtua (Sebuah Catatan Jurnalistik)

Kamu pernah dengar peristiwa 15 Juni? Tepat di malam takbiran, bersenjata gergaji pemotong es, pemuda Y (17) menetak punggung tiga pemuda. Satu luka ringan, satu luka berat, satu tewas dengan luka memanjang di punggung.

Jam lima subuh, pemilik tangan berlumuran darah itu pulang ke rumah. Sebuah kampung sepi di pinggir rel kereta. Bersama suara takbir Lebaran, ia bawa kakinya, menyusuri jalan setapak sempit yang muat satu motor. YR (37), ibunya, yang membukakan pintu. Sejak subuh itu, sampai ia pamit tahlilan empat hari setelah kejadian, ia jadi pendiam. Ayahnya, W (36), mencium gelagat itu. Bersama seorang rekan wartawan, W dan istrinya bicara blak-blakan soal keseharian anak sulungnya, Minggu, 24 Juni 2018, di rumahnya (atas permintaan W, saya tidak akan mencantumkan alamat rumah dan informasi pribadi pelaku dan keluarganya).

Y mesti mengubur mimpinya punya rumah dan membahagiakan orangtua karena dua hal. Pertama, ia sedang berurusan dengan kasus hukum. Kedua, tanggal 1 Juli 2018 ia harusnya mengambil ijazah di sekolahnya. Ia tercatat menamatkan SMK jurusan Otomotif. Kombinasi dua hal ini membuatnya tidak bisa mengambil ijazah. Siapapun di Indonesia yang pernah terjerat kasus hukum dan tidak mengantongi ijazah layak, bakal sulit mendapat pekerjaan. Sementara bahagia dan rumah perlu dibeli dengan uang. Oke, banyak yang bilang kita tidak bisa membeli kebahagiaan dengan uang. Namun, uang bisa membeli berbagai peranti kebahagiaan, sementara negara lebih sering merenggut kebahagiaan rakyatnya. Untuk mendapat kebahagiaan, kita lebih perlu uang ketimbang negara.

Y tinggal bersama dua orangtua dan adik berusia tujuh tahun. Diantar Ketua RT, saat kami tiba, W bersama istri dan anak bungsungnya sudah duduk di atas motor. Hendak berangkat. “Mau menenangkan pikiran,” kata W, lemah. Sejak anaknya ditangkap, ia mengaku belum makan apa-apa. “Kami sampai tidur di lantai. Ingin merasakan apa yang dirasakan anak kami. Kalau bisa, kami rela menukar penderitaan anak kami di sana (Lapas Polres Karawang), biar kami saja yang merasakan,” tambah sang istri diisaki tangis.

W bertutur, beberapa hari setelah peristiwa 15 Juni, usai Magrib, Y pamit ke rumah saudara. “Yah, aku mau tahlil,” kata Y. Sejak itu, Y belum pulang. Y memang sering menginap di pos ronda. Ia juga dikenal aktif di Paguyuban Yatim Piatu. Sebab itu, YR tidak khawatir saat putranya tidak pulang. Siangnya, keluarga kecil itu mendapat kabar kalau Y ditangkap polisi. Ketika itu, W sedang bekerja di sebuah bengkel bubut, sementara YR ada di rumah. Kebetulan waktu itu YR sedang senggang, belum menerima order sebagai buruh cuci.

Bagaimana keseharian Y terekam dari mata kedua orangtuanya? Remaja penggemar ayam goreng ini dikenal baik, sopan, dan ramah.

Kalau sedang di rumah, Y gemar main di pohon mangga. Langkah terjauhnya dari rumah hanya pos ronda. Orangtuanya sulit membayangkan, bagaimana anak sebaik itu bisa menyakiti orang lain. Mereka tidak menyangkal perbuatan Y. Mereka tahu Y salah. Mereka hanya sulit membayangkan jemari Y menggenggam gergaji 26 gerigi. Jarinya lebih sering ia pakai memetik gitar.

Dari mulut mereka, Y dikenal dekat dengan kawan-kawan di sekitar rumahnya. Beberapa kawan dekatnya bahkan berkali-kali menangis ketika tahu Y ditangkap polisi. Y tidak pernah terlibat gank motor, nilai akademiknya cemerlang, dan tidak pernah berbuat masalah di sekolah. “Dia anak baik,” kata guru Y, sebagaimana dituturkan ulang oleh YR.

“Kami tidak punya apa-apa selain Allah. Kami orang miskin. Bahkan kami rela menukar kepala kami dengan kebebasan anak kami,” itu kata W. Mimiknya linglung. Kata istrinya, W berkali-kali pingsan. Masih sulit terima. Saya membayangkan wajah-wajah politisi, anak-anak yang sulit sekolah, pencari kerja, sopir angkot. Diam-diam, rasa haru terbit di dada. Ah, dalam situasi begini, negara tidak bisa hadir untuk warga negaranya. Keduanya mengaku pasrah dan syok.

Sebagai pembanding, saya akan menceritakan sedikit peristiwa 15 Juni kepada kamu. Saya mendapatkan kisah ini dari teman wartawan. Teman saya mendapat kisahnya dari pers rilis polisi.

Awalnya, dua orang (salah satunya Y), pemuda setempat, nongkrong di Gor Panatayuda. Berdekatan dengan 14 pemuda dari Rawamerta. Dua kelompok itu mabuk. Saling merasa terganggu. Saling berbalas tatap. Saling mengancam. Barangkali karena merasa kalah jumlah, Y bersama temannya balik arah. Ia kembali bersama seorang kawan, dan gergaji pemotong es. Kembali berbalas ancaman. Salah seorang dari kelompok Y turun, menghampiri kerumunan kelompok pemuda Rawamerta, memukul bagian ekor motor milik kelompok pemuda Rawamerta menggunakan gergaji. Mereka bentrok. Kawanan Y kabur naik motor. Berboncengan tiga orang. Entah bagaimana awalnya, Y bersama kawannya turun dari motor. Sementara kawannya yang lain kabur membawa motor dan sampai sekarang tidak diketahui jejaknya. Y dan kawannya kembali berbalas ancaman dengan kelompok pemuda asal Rawamerta. Y menggertak dengan gergaji, kelompok lawannya balas menggertak dengan galah. Singkat cerita, kawan Y terdesak. Ia dikeroyok. Y datang membantu. Ia menebas ke segala arah. Jam dua subuh lebih sedikit, tiga pemuda rebah bersimbah darah. Satu tewas.

Selain kami, belum ada satupun yang datang ke kediaman W. Ketua RT yang mengantar kami bilang, ia sudah mengadukan peristiwa ini ke kepala desa. Lagi-lagi negara tidak hadir. Kecuali menarik pajak dan Pilkada, mustahil berharap kehadiran negara.

*

Oleh F. Yuhri. Penyuka nasi bebek yang percaya kalau kiamat terjadi di hari Jumat.